Primata terkecil di Dunia terdapat di Indonesia


Photography by Barry Kusuma
www.barrykusuma.com (Indonesia & Asia Images)

Primata terkecil di Dunia terdapat di Indonesia, primata tersebut adalahTarsius primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Meskipun grup ini dahulu kala memiliki penyebaran yang luas, semua spesies yang hidup sekarang ditemukan di pulau-pulau di Asia Tenggara khususnya Sulawesi Manado.


Diindikasikan bahwa tarsius, yang semuanya dimasukkan pada genus Tarsius, sebenarnya harus diklasifikasikan pada dua (grup Sulawesi dan Filipina-Barat) atau tiga genera yang berbeda (grup Sulawesi, Filipina dan Barat).[1][3]. Taksonomi di tngkat spesies adalah rumit, dengan morfologi seringkali digunakan secara terbatas dibandingkan vokalisasi. Beberapa "ragam bentuk vokal" mungkin mewakili taksa yang belum dideskripsikan, yang secara taksonomis terpisah dari Tarsius tarsier (=spectrum) (seperti tarsius dari Minahasa dan kepulauan Togean), dan banyak tarsius lain dari Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya (Shekelle & Leksono 2004).

video

Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar; tiap bola matanya berdiameter sekitar 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya.[5] Kaki belakangnya juga sangat panjang. Tulang tarsus di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya 10 sampai 15 cm, namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm.


Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang debngan lengan atas. Di banyak ujung jarinya ada kuku namun pada jari kedua dan ketiga dari kaki belakang berupa cakar yang mereka pakai untuk merawat tubuh. Bulu tarsius sangat lembut dan mirip beludru yang bisanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda.[6]
Tidak seperti prosimia lain, tarsius tidak mempunyai sisir gigi, dan susunan gigi mereka juga unik.


Semua jenis tarsius bersifat nokturnal, namun seperti organisme nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal.


Otak tarsius berebda dari primata lain dalam hal koneksi kedua mata dan lateral geniculate nucleus, yang merupakan daerah utama di talamus yang menerima informasi visual. Rangkaian lapisan seluler yang menerima informasi dari bagian mata ipsilateral (sisi kepala yang sama) and contralateral (sisi kepala yang berbeda) di lateral geniculate nucleus membedakan tarsius dari lemur, kukang, dan monyet, yang semuanya sama dalam hal ini.[7].


Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar.[6] Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak.


Kehamilan berlangsung enam bulan, kemudian tarsius melahirkan seekor anak. Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar.


Satu jenis tarsius, tarsius Dian T. dentatus; terdaftar segabai sinonim juniornya T. dianae oleh IUCN), terdaftar di IUCN Red List berstatus Bergantung Konservasi. Dua spesies/subspesies lain , Tarsius Barat (T. bancanus) dan subspesies nominasinya (T. bancanus bancanus , terdaftar dengan status Risiko Rendah. Tarsius Sulawesi (T. tarsier; terdaftar sebagai sinonim juniornya T. spectrum) dikategorikan sebagai Hampir Terancam. Jenis tarsius lain terdaftar oleh IUCN sebagai Data Kurang. Adapun di Indonesia, semua jenis tarsius yang hidup di Indonesia terdaftar sebagai satwa dilindungi. tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam kurungan, dan bila dikurung, tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh dirinya karena stres.

Photography by Barry Kusuma
www.barrykusuma.com (Indonesia & Asia Images)

Travelers & Fotografer yg ingin keliling Indonesia, Wajib punya buku ini.


Buku 15 Destinasi Wisata Terbaik di Indonesia adalah Buku yg merangkum Keindahan alam dan budaya Indonesia. membaca buku 15 Destinasi ini membuat Travelers & Fotografer terinspirasi untuk keliling Indonesia, di Buku ini detail menjelaskan tentang destinasi dan event budaya yang jarang orang tahu dan kunjungi di Indonesia. Bagi Fotografer yang ingin keliling Indonesia Buku ini wajib dimiliki karena merupakan panduan yang lengkap destinasi mana saja yang harus Fotografer harus kunjungi di Indonesia untuk membuat stok foto.

banyak Travelers merasa bepergian dan liburan hanya menghabiskan uang saja, padahal banyak aktifitas yang bisa dilakukan pada saat Traveling salah satunya adalah memotret. Traveling dan memotret adalah bagian yang tidak terpisahkan, sebagian besar kita pada saat liburan pasti membawa kamera. di buku ini saya berikan tips travel foto disetiap destinasi Wisata termasuk tips memotret event budaya yang bisa menjadi panduan Travelers, dengan adanya Tips Travel foto dibuku ini bertujuan untuk membuat foto yang baik sehingga foto foto traveling ini bisa digunakan untuk kebutuhan Blog atau majalah. 

kelebihan lain buku 15 Destinasi ini adanya 
1. menerangkan cara "How To Get There"
2. Full Collor dan foto foto berwarna.
3. informasi destinasi wisata di Indonesia yang masih jarang dikunjungi dan Tips Travel Foto disetiap Destinasi Wisata. 

anda bisa memesan Buku ini di Gramedia Online dan Toko Buku Terdekat.

pesan buku ini di Gramedia Online klik

1 comment:

Imaji Tour said...

Tarsius emang super unik. Btw, omong-omong soal tarsius, di belitung agak sedikit beda loh guys.
Tarsius Bancanus Saltator - The Ancient Primate from Belitung